Memanjakan Diri Di Gunung Papandayan

Memanjakan Diri Di Gunung Papandayan
Oleh Satya Winnie Sidabutar (@satyawinnie)

 

 

Gunung Papandayan

Gunung Papandayan

Penaaat. Saya penat dengan Jakarta. Rutinitas kantor ditambah kemacetan yang tak mengenal waktu membuat saya jengah. Saya mau pergi ke suatu tempat yang sepi dan dingin. Saya mau memanjakan diri.

Tiba-tiba terbersit ide untuk berakhir pekan ke Papandayan. Aksesnya mudah, (bisa dibuat) murah dan tidak terlalu jauh dari Jakarta. So, here we go Papandayan!

Jumat malam saya langsung mengemas seluruh keperluan mendaki ke dalam carrier 50 + 5 liter. Karena pendakian ke Papandayan ini hanya beranggotakan dua orang, bawaan menjadi cukup berat karena bebannya banyak. Ada tenda dan tulangnya, trangia (kompor portable dengan bahan bakar spiritus), perlengkapan pribadi dan yang tak boleh dilupa, kamera.

Saya dan travelmate saya, Juferdy, berencana untuk berangkat tengah malam dari terminal Kampung Rambutan ke Garut, gerbang masuk untuk mendaki gunung Papandayan. Jarak tempuh Jakarta – Garut kurang lebih 3 – 4 jam sehingga kami memperkirakan akan tiba subuh di Garut dan bisa langsung mendaki.

Ketika kami tiba di terminal Kp Rambutan, hanya tinggal 1 bus yang tersisa untuk jurusan Jakarta – Garut, yaitu bus Wanaraja. Setelah menaruh carrier di bagasi, kami naik ke bus dan mendapati bus Patas AC ini kosong melompong. Sepi. Kondisi seperti ini ada baik dan buruknya. Baiknya, saya bisa tidur selonjoran di kursi jejer tiga. Enak banget kan? Buruknya, kalau sepi begini, busnya bisa berangkat lama sekali karena menunggu penumpang lain dan jika jadwalnya ngaret, rencana kami untuk mendaki subuh sirnalah sudah. Yaaaahh… ternyata benar, bus kami baru berangkat jam dua jam kemudian alias jam 02.00 WIB. Yowis, yang penting dapat bus ke Garut. Daripada dongkol, mari kita molor (di tiga bangku :p ) menabung energi untuk pendakian besok.

Rasanya baru tidur sebentar, tetapi di luar terdengar bisingnya klakson mobil dan suara orang berteriak. Ooohh, ternyata kami sudah sampai di Garut. Kulirik handphone, jam sudah menunjukkan pukul 5.25, tetapi matahari sudah bersinar terang. Gagal deh rencana berangkat pendakian subuh-subuh.

Setiba di terminal Guntur, Garut, kami mencari angkot yang bisa membawa kami ke Cisurupan. Memang sudah ada beberapa angkot yang berjejer tetapi semuanya adalah angkot carteran satu fans klub bola yang mengadakan jambore ke Gn Papandayan dengan jumlah sekitar 130 orang. Walah, banyak amat. Salah seorang supir berbaik hati menyuruh kami naik dan bergabung dengan teman-teman pensklup tadi. Aduh baek pisan euy si Bapaknya. Ongkos naik Angkot Biru ini adalah Rp 15.000,-.

Pagi itu jalanan Garut tidak terlalu ramai. Di sebelah kiri jalan Gunung Cikuray menjulang dengan gagahnya. Gunung Papandayan tidak terlihat dari jalan karena terhalang bukit-bukit di kejauhan. Rasanya excited, enggak sabar buat merasakan dinginnya Papandayan dan bertemu Edelweiss yang cantik. O yeah!

Perjalanan Terminal Guntur – Cisurupan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Angkot dari Terminal Guntur akan berhenti di gerbang kecamatan Cisurupan dan dilanjutkan dengan pick-up. 1 pick-upharganya 200 ribu rupiah, terserah berapapun penumpangnya. Buat pejalan hemat kayak kami ya ogah bayar segitu buat berdua. Mending nungguin tim pendaki kecil yang lain untuk patungan bayar pick-up.

Lama ditunggu, tak ada tim kecil yang bisa diajak patungan bayar pick-up. Matahari yang semakin tinggi membuat saya cemas kalau harus mendaki setelah makan siang. Huhuhuhu. Kemudian seorang bapak datang menghampiri dan bilang “Neng, ojek aja neng. Nunggu pick-up mah lama”. Saya jawab dengan gelengan kepala. Ogah ah, pasti si bapak ojek ini matok harga mahal, pikirku dalam hati.

10 menit menunggu, saya mulai kehilangan kesabaran. Si Bapak Ojek ini kembali menawarkan diri dan akhirnya saya bertanya berapa tarif naik ojek ke pintu gerbang Papandayan. Ternyata cuma Rp 30.000 rupiah. Loh, kok murah ya? Naik pick-up tarifnya 20.000 kalau orangnya ada 10 tapi nunggunya masih lama. Naik ojek lebih cepat dan cuma nambah 10.000 ajah. Wes lah, sikat!! Berangkat!

“Tenang aja Neng, bapak udah sepuluh tahun jadi ojek di sini. Jalanannya nanti banyak lobang, tapi Eneng percaya aja sama Bapak. Pegangan ya nanti.” ujar si Pak Babay (kenalan di motor) sambil mengangkat carrier saya ke bagian depan motor dengan santainya.

Baru sekitar 10 menit berkendara, jalanan yang tadinya mulus beraspal, berubah menjadi jalanan berlubang. Mending lubang kecil yeee, ini lubang-lubang jalannya kayak habis kejatuhan meteor. Gedebeut. Namun, berkat kelihaian si Pak Babay meliuk-liuk diantara lubang, kami tiba di pintu masuk pendakian Gn Papandayan dengan selamat. Hore!

Ketika tiba di pintu masuk, kita harus melapor dan mendaftarkan diri terlebih dulu. Ada Pak Rokim dan Pak Komik yang sedang berjaga di pos berukuran 2×3 meter itu. Setelah menuliskan nama, tanggal masuk dan rencana tanggal kembali, Pak Rokim menanyakan apakah kami membawa golok dan saya jawab tidak. Di pojok ruangan saya melihat beberapa golok yang dibungkus kresek hitam. Kata Pak Komik, pendaki tidak boleh membawa golok  karena takut dipakai untuk menebang pohon. Kami diminta membayar tiket masuk 2000 rupiah per orang dan memberikan sumbangan sukarela. Ya terserah jumlahnya berapa. Namanya juga sukarel.

Setelah selesai pendaftaran saya dan Ju mengecek perlengkapan dilanjutkan dengan pemanasan dan yang tak kalah pentingnya yaitu berdoa.

Pendakian Papandayan dimulai. Berangkat!

Di perjalanan, kami berjumpa dengan beberapa pendaki yang memakai celana jeans, sendal jepit dan tas ransel kecil. Dalam hati saya merasa heran, apa mereka enggak sayang sama kaki ya? Sendal itu tidak melindungi kaki loh. Jadi, resiko cedera nya lebih besar. Aduh, cuma bisa geleng-geleng kepala deh melihat mereka. Jalur Papandayan kan berbatu-batu besar dan berkerikil. Kalau tidak pakai sepatu yang punya grip yang baik ya siap-siap tergelincir terus gedubrak di batu-batu itu. Aduh gak kebayang deh. Sayangilah kakimu dengan pakai sepatu.Kami mulai menapaki jalur pendakian yang berbatu-batu besar. Ritme langkah dijaga agar tidak cepat lelah. Jam menunjukkan pukul 08.40 WIB. Cuaca sudah mulai panas dan terlihat di kejauhan asap belerang membumbung tinggi. Waktu yang paling baik untuk mendaki Papandayan sebenarnya pagi-pagi sekali agar tidak kepanasan. Kalau sudah siang, panasnya benar-benar menyengat dan takutnya bisa terkena heat stroke dan dehidrasi.

Setelah 1 jam berjalan, kami tiba di Hutan Mati. Kami menurunkan carrier dan beristhirahat sejenak. “Ahhhh, tempatnya cantik banget” teriakku. Iya tempat ini memang cantik sekali. Eksotis. Saya dan Ju mengeluarkan kamera masing-masing dan mulai membidik pemandangan indah dari sudut mata.

 

Hutan mati ini membawa kesan dingin. Pohon-pohon ini telah terkubur abu hasil erupsi tahun 2002. Walaupun sudah tidak memiliki daun, batang pohonnya tetap berdiri tegak, gagah dan menjadi primadona Papandayan. Mereka adalah saksi peristiwa 11 tahun yang lalu.

Jeprat-jepret selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Pondok Seladah, tempat dimana semua pendaki mendirikan camp. Di pos pendaftaran tadi, kami sudah diwanti-wanti tidak boleh mendirikan camp di hutan mati dan tegal alun.

“Di hutan mati tanahnya berbatu sedangkan Tegal Alun itu cagar alam, jadi jangan mendirikan tenda di dua tempat itu ya” anjuran Pak Rokim yang terngiang di kepala.

Di kejauhan terlihat satu lapangan luas dengan beberapa tenda warna-warni. Itu dia Pondok Seladah. Tapi tendanya sudah ramai begitu. Saya jadi cemas tidak dapat lahan yang enak dan sepi. Tadinya kami mau nakal dengn mendirikan camp di Tegal Alun tapi niat itu diurungkan karena enggak mau nge-campdengan merasa bersalah. Lagian nanti ceritanya enggak bisa di-post di blog. Jadi pendaki nakal kok bangga.

Setibanya di Pondok Seladah, saya melihat rombongan Jambore sudah ramai mendirikan tenda di lapangan. Beberapa orang sedang mengambil air di pipa air warga yang bocor (atau sengaja dibocorin?)  dengan botol mineral dan sebagian lagi sedang mencuci peralatan makan.

Seperti yang saya bilang di awal, tujuan naik gunung Papandayan adalah mencari kesunyian dan ketenangan. Untuk menghilangkan kepenatan. Tapi kalau ngecamp bareng rombongan jambore ya mana bisa sunyi ya kan? Pastinya mereka bakal kumpul rame-rame, main games, nyanyi di api unggun dll. Kami memutuskan untuk mencari tempat lain saja. Setelah berkeliling di sekitar Pondok Seladah, kami mendapatkan satu petak tanah landai di bawah pepohonan rimbun dan cukup jauh dari camp rombongan jambore. What a perfect place!

Saya dan Ju membongkar carrier masing-masing, membangun tenda, mengeluarkan trangia, memasak air hangat dan menyiapkan makan siang bersama. Setelah mendaki selama 2 jam kami sudah menikmati makan siang di lokasi camp yang sempurna. Cepat sekali ya. Biasanya mendaki Gunung Gede, paling cepat 8 jam dan paling lama 5 hari. Kali ini cukup 2 jam saja. Menu kami siang itu telor dadar, orek, rendang dan semur jengkol. Wuih muantep!

Setelah kenyang, semua orang jadi bodoh. Ye kan? Ya gitu deh kita jadinya. Habis makan siang dengan menu ajib, dibelai-belai angin jadi ngantuk. Saya dan Ju masuk ke dalam tenda dan berencana untukboboci (bobok-bobok ciang) selama 1 jam. Eh, kebablasan jadi 3 jam. Hahaha.

Sore harinya kami berjalan-jalan di Pondok Seladah, menyapa beberapa pendaki yang camp di lapangan sambil bertanya jalur menuju Tegal Alun. Ada yang menunjukkan jalur ekspress yang katanya tidak sampai 1 jam perjalanan tapi jalurnya batu-batu curam dan tanjakan dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Busyet! Tanjakannya tegak lurus begitu. Ah, gak jadi ah. Kami lewat jalur biasa saja, jalur yang sudah dikasi marka. Jarak tempuhnya mungkin lebih lama, tapi yang penting aman. Yes! That is the most important. Our safety.

Kami berjalan berkeliling Pondok Saladah. Warna jingga dengan semburat merah muda mewarnai langit senja. Saya menikmati kedamaian itu sembari menunggu langit berubah menjadi gelap, membawa semua resah tenggelam dalam kelam. Selamat datang, malam.

Kami kembali ke tenda dan menyiapkan makan malam. Menu makan malam kami adalah nasi, rendang, tumis labu teri dan indomie soto pedas. Nyahahaha. Cemilan wajib banget emang Indomie kalau naik gunung. Cemilan ya, bukan makanan utama.

 

Angin sedang berhembus kencang dan kami ada di ketinggian 2288 mdpl. Menggigil bro. Sudah pakai jaket polar, windbreaker, syal, kupluk, sarung tangan masih berasa dinginnya. Tapi justru itu kan yang dicari kalau naik gunung. Sensasi dingin-dingin di bawah langit bertaburan bintang. Malam itu kami mengabadikan langit sambil ngobrol ngalor ngidul sampai ngantuk. Karena udara semakin dingin, kami beranjak masuk ke dalam tenda, berdoa bersama lalu tidur.

Dan……

Kebablasan. Kami bangun jam 6 pagi. Huhuhuhu. Saya sedih karena rencana untuk dapat sunrise di Papandayan gagal karena lupa bikin alarm. Sama-sama bodoh. Ah yasudah tak apa. Kami menghibur diri dengan menyeduh coklat hangat dan leyeh-leyeh di dalam tenda yang disiram sinar mentari pagi. Nikmatnya….

Setelah menghabiskan makan pagi, kami merapikan barang di sekitar tenda agar tidak berantakan dan berjalan menuju Tegal Alun. Ketika berpapasan dengan orang yang baru turun dari Tegal Alun, kami bertanya berapa lama untuk sampai di atas dan mereka menjawab tidak sampai satu jam. Lah, sama aja dong berarti lewat jalur biasa dengan jalur (yang katanya) ekspress tapi ekstrim. Ya mending jalan biasa deh.

Untuk perjalanan ke Tegal Alun, kami hanya membawa air 750 ml dan satu snack. Cukuplah itu. Kan baru selesai makan pagi. Cadangan energinya masih banyak. Dengan hati gembira dan cuaca cerah, kami menapaki tanah putih menuju Tegal Alun.

 

Jalur dari Pondok Seladah ke Tegal Alun bisa dikatakan tidak berat. Hanya ada satu titik yang cukup susah, yaitu Tanjakan Mamang yang kemiringannya lebih dari 45 derajat. Heran juga sih kenapa diberi nama Mamang. Mungkin dulu, setiap berjumpa di tanjakan sempit itu, orang selalu menyapa dan berkata “Rek kamana, Mang?” (mau kemana Mang / Bang?) dan jadilah tanjakan itu dinamai Tanjakan Mamang. Hahaha. Itu tebakan kami saja sih. Hahaha.

Aaaah, akhirnya tiba juga di Tegal Alun. Mataku langsung terpaku melihat padang Edelweiss yang sebegitu luasnya. Katanya sih luas padang Edelweiss ini 32 hektar. Wow! Rasanya mau loncat-loncat dan guling-guling disitu. Hahaha. Kami berjalan mengikuti jalan setapak, menyapa Edelweiss yang cantik tapi tidak boleh dipetik.

 

Yang membuat saya terheran adalah, ada beberapa tenda yang berdiri di Tegal Alun. Loh. memangnya mereka enggak tahu ya kalau di Tegal Alun dilarang mendirikan camp? :/ Atau mereka sudah tahu tapi masa bodoh? Huh. Dasar pendaki-pendaki liar. Cuma ya saya bisa apa? Mau negur? Siapa saya ya kan? Jadi, enggak ada pilihan lain selain didiemin aja. Tapi kesalnya, saya menemukan seonggok kayu bakar bekas camp tapi masih ada baranya dan langsung saya injak-injak sampai benar-benar mati. Tahu enggak sih kalau bara itu ketiup angin bisa menimbulkan kebakaran. Sadar enggak sih pendaki-pendaki itu? Ckckckck. Bertobatlah Mas.

Lepas dari rasa kesal karena ulah pendaki-pendaki nakal, saya gembira sekali bisa bermandikan matahari di Padang Edelweiss (terus nyanyi “Edelweiss, edelweiss, why are you so happy to meet me?” OST The Sound of Music itu looh) sambil loncat-loncatan dan tidur-tiduran di Tegal Alun.

etelah puas bermain, saya dan Ju berjalan pulang ke camp Pondok Seladah. Kami berencana untuk turun ke Garut setelah makan siang. Sedang asyik menuruni jalan setapak di hutan mati, tiba-tiba mata saya langsung ter-auto locked ke seorang perempuan yang sedang asyik berfoto dengan syal Manchester United.

“Mbak ini salah panggung kali ya Ju?” ujarku setengah terkikik. Gimana enggak ngakak, si Mbak dengan rambut merah menyala ini kostumnya kayak mau dangdutan di kampung. Bajunya ketat mentereng, pakai legging / stocking yang ada renda-rendanya dan pakai sepatu boots musim dingin. Hellooo, sepatu boots yang ada bulu-bulunya dipakai di gunung? Oh yes, thank you. Hahahahaha. (ngakak guling-guling)

“Kamu gak boleh gitu ah. Setidaknya kita harus menghargai niat dan usaha dia untuk sampai kesini” kata Ju.

“Hahahaha. Oke oke. Daripada aku ketawa sakit perut, mending kita cepat-cepat balik ke camp deh” jawabku.

Tapi maap nih ye encang-encing, fotonye kagak ade. Soalnya takut si Mbak-mbak itu tersinggung kalau difoto tanpa izin. Atau bisa jadi kesenangan dikira lagi jadi artis. Huahahaha. Intinya, saya lupa foto itu Mbak-mbak sih. Terserahlah kalau nanti kalian komentar “Ah, no pict hoax”. Hahahaha.

Oke, balik lagi ke cerita Papandayan. Setelah makan siang, kami membereskan peralatan, melipat tenda dan packing semua sampah yang kami bawa. Masih ingat kan dengan tiga prinsip pendaki?

1. Take nothing but photos. (Tidak mengambil apapun selain foto / gambar)
2. Leave nothing but footprints. (Tidak meninggalkan apapun selain jejak kaki)
3. Kill nothing but times. (Tidak membunuh apapun selain waktu)

Setelah memastikan camp bersih dari sampah dan tidak ada yang tertinggal, kami bersiap untuk perjalanan turun.

Ternyata banyak juga pendaki yang akan turun siang itu sehingga jalur agak macet. Beberapa kali saya jantungan hampir tergelincir karena licinnya kerikil. Ju menyarankan untuk turun dengan setengah berlari. Hah? Lari? Gila kali. Jalan aja harus pelan-pelan banget supaya enggak terpeleset, ini malah disuruh lari. Tapi setelah Ju memberi contoh turun dengan setengah berlari, kerikil itu tidak membuat dia jatuh terpeleset. Oke, mari berlari. *gruduk gruduk gruduk*

Perjalanan turun hanya memakan waktu 1 jam. Setibanya di pos bawah, kami bertemu dengan rombongan kecil lain untuk patungan membayar pick-up. Pick-up yang seharusnya diisi 10 orang malah diisi 18 orang. Buset dah, kalian pastinya bisa ngebayangin betapa sempitnya duduk melipat kaki selama setengah jam. Pegel bro!

Akhirnya, tiba juga di Cisurupan. Kami mencari angkot ke Terminal Guntur namun tak kunjung ada. Angkot-angkot itu lebih memilih mengangkut rombongan besar. Akhirnya setelah hampir sejam menunggu, si supir menawarkan untuk bayar 15 ribu (tarif biasa : 10 ribu) supaya kami bertujuh (saya, Ju dan 5 orang teman) bisa langsung berangkat. Ya sudah, kami mengangguk saja.

Jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam ketika kami tiba di Terminal Guntur, Garut. Karena saya pergi sebentar keliling kota Garut bersama teman lama, kami baru pulang ke Jakarta jam 12 malam dan tiba di Terminal Kampung Rambutan jam 4 pagi. Hore! Perjalanan kami berakhir dengan menyenangkan, selamat dan tiada kekurangan suatu apapun. Selesai sudah memanjakan diri di Papandayan. Sudah cukup memanjakan dirinya. Sekarang waktunya kembali ke rutinitas Ibu Kota tapi dengan baterai yang penuh! Woohooo~ Have a good day, friends! Happy travelling!

Teh Satya Winnie di Gunung Papandayan

Teh Satya Winnie di Gunung Papandayan

***

Dukung terus Jelajah Garut melalui usaha-usaha kecil yang kita jalankan:

Jelajah Garut Merchandise | Jelajah Garut Tour Organizer | Jelajah Garut Outdoor Gear Rental

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest

Shares
Share This