Surak Ibra : Seni Gotong Royong khas Garut

Jumlah pemain Surak Ibra yang tergolong banyak ini mencerminkan semangat persatuan dan gotong royong. Pemain yang diboyong juga adalah simbol seorang tokoh pemimpin yang mempersatukan masyarakat.

Surak Ibra, juga disebut Kesenian Boyongan atau Boboyongan, memiliki ciri khas adanya seorang pemain atau tokoh yang diboyong (diangkat-angkat hingga dilempar tinggi-tinggi dan ditangkap kembali) oleh pemain-pemain lainnya. Semarak, gembira, dan kolosal adalah ciri khas pertunjukkan ini. Selain memboyong, para pemain yang berjumlah 30 hingga 60 orang ini juga memeragakan gerakan Pencak Silat lengkap dengan iringan kendang pencaknya.

Jumlah pemain Surak Ibra yang tergolong banyak ini mencerminkan semangat persatuan dan gotong royong. Pemain yang diboyong juga adalah simbol seorang tokoh pemimpin yang mempersatukan masyarakat. Sepintas Surak Ibra nampak seperti penggalan momen penyambutan kemenangan seorang tokoh oleh sejumlah pendukungnya. Memang, dulu seni tradisional Surak Ibra ini merupakan suatu sindirian terhadap pemerintahan Belanda yang bertindak sewenang-wenang kepada pribumi, sekaligus untuk memupuk motivasi masyarakat agar mempunyai pemerintahan sendiri hasil gotong royong bersama.

Kesenian yang berasal dari Kp. Sindangsari Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja ini merupakan hasil ciptaan Raden Djajadiwangsa, Putera Wangsa Muhammad atau yang lebih dikenal dengan Raden Papak. Makanya kesenian ini juga kental kaitannya dengan Makam Cinunuk dan Kasepuhan Cinunuk. Dulu sekitar tahun 1910 di Kasepuhan Cinunuk dibentuk sebuah organisasi masyarakat yang bernama Himpunan Dalem Emas (HDE) yang turut serta ngamumule (melestarikan) Surak Ibra. Namun organisasi ini kemudian bubar di tahun 1948.

Di masa lalu, Surak Ibra sering dipertunjukan pada pesta-pesta di Garut, yang biasa dikenal sebagai Pesta Raja. Pada saat itu para dalem atau bupati Garut mengadakan hajatan. Dalam perkembangannya saat ini, Surak Ibra sering ditampilkan dalam upacara hari-hari besar, khususnya hari Kemerdekaan Republik Indonesia atau Hari Jadi Garut.

***

Pertunjukan Surak Ibra biasanya melibatkan sekitar 30-60 orang. Pertunjukan dimulai dengan sejumlah pemuda membawa obor yang menyala lalu mengambil formasi berbanjar. Mereka memeragakan gerakan-gerakan silat. Disusul oleh rombongan penari Surak Ibra yang memakai kostum pesilat, hanya tidak menggunakan warna hitam lagi, tetapi warna kuning dan merah.

Salah seorang pemain bertindak sebagai pemberi komando. Atas komandonya musik pengiring ditabuh serempak (biasanya lagu Golempang) bersambung dengan sorak-sorai yang meriah. Musik dan suara sorak ini menciptakan suasana yang meriah dan dinamis. Musik pengiring Surak Ibra secara umum hampir sama dengan pengiring Kendang Pencak, hanya ditambah angklung dan dogdog sebagai pelengkap.

Setelah itu mereka melakukan formasi-formasi tertentu dengan gerakan-gerakan pencak silat. Pada saat mereka membuat formasi lingkaran, salah seorang pemain bertindak sebagai tokoh yang akan diboyong (diangkat-angkat). Ketika lingkaran semakin menyempit tokoh tadi diangkat oleh para penari Surak Ibra lainnya, diikuti musik dan sorak sorai yang semakin meriah.

Di atas tangan-tangan penari Surak Ibra lain, sang tokoh ini menari-nari dan berpindah-pindah dari tangan ke tangan yang lain, kadang tinggi sekali melambung ke atas, sorak sorai pun semakin ramai. Biasanya setelah atraksi Surak Ibra yang memukau itu, para pemain kembali ke formasi semula.

***

Bupati Garut, Rudy Gunawan, diboyong oleh para pemain Surak Ibra

Bupati Garut, Rudy Gunawan, diboyong oleh para pemain Surak Ibra

Kesenian Surak Ibra kini tergolong pada kesenian yang langka dan terancam punah. Hal ini disebabkan karena sulitnya regenerasi dan derasnya arus globalisasi. Kini beberapa pewaris kesenian ini juga sudah memasuki usia senja dan kesulitan untuk meremajakan kesenian ini.

Nah, Travelmate, jangan biarkan Surak Ibra dan kesenian kita lainnya punah atau diklaim bangsa lain. Ayo kita ikut lestarikan kesenian-kesenian daerah kita dengan apapun yang bisa kita lakukan. 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest

Shares
Share This