Peresmian Wana Wisata Pendakian Gunung Cikuray

Hari ini, Kamis, 7 April 2016, Gunung Cikuray akan mulai dicoba untuk secara resmi menerima para pendaki dengan pengelolaan yang juga diakui oleh Perhutani.

Peresmian Wana Wisata Pendakian Gunung Cikuray
Kamis, 7 April 2016

Konflik pengelolaan wisata pendakian di Gunung Cikuray telah lama menjadi perbincangan, baik antar pendaki, maupun diantara penduduk dan instansi lokal. Konflik ini menjadi berkepanjangan karena Perum Perhutani KPH Garut, sebagai otoritas yang berwenang di Gunung Cikuray, tidak membuka kawasan hutan lindung Gunung Cikuray untuk pendakian; sementara setiap minggunya para pendaki terus memadati Cikuray. Sehingga berbagai masalah timbul dan seringkali pendaki yang menjadi korban.

Hari ini, Kamis, 7 April 2016, Gunung Cikuray akan mulai dicoba untuk secara resmi menerima para pendaki dengan pengelolaan yang juga diakui oleh Perhutani. Lewat acara Peresmian Wana Wisata Pendakian Gunung Cikuray.

Peresmian Wana Wisata Pendakian Gunung Cikuray

Upaya peresmian pengelolaan ini muncul dari inisiatif kelompok masyarakat sekitar yang ingin wisata pendakian Gunung Cikuray ini mendapatkan pengakuan dari otoritas terkait, sehingga dapat lebih diperhatikan dan dikembangkan. Kelompok masyarakat ini kemudian membentuk sebuah organisasi bernama Kelompok Tani Hutan (KTH) Wisata Bakti Wilaku. Nantinya, KTH ini juga yang akan mencoba mengelola Wana Wisata Gunung Cikuray secara profesional.

Selain Jalur Pemancar, yang sudah lama digunakan sebagai jalur pendakian Gunung Cikuray, KTH ini juga merangkul jalur-jalur lain, seperti di Bayongbong, Cikajang, dan jalur lainnya di Cilawu. Ditemui di Stasiun Pemancar, Ketua KTH Wisata Bakti Wilaku, Kang Yayan, berharap semua jalur dapat diakui legalitasnya dan memberi kontribusi, baik pada masyarkat sekitar, maupun pada Perum Perhutani sebagai instansi yang berwenang di kawasan Gunung Cikuray.

Peresmian Wana Wisata Pendakian Gunung Cikuray

Mengenai tarif resmi tiket masuk kawasan Gunung Cikuray, kang Yayan menambahkan bahwa tiket ini akan dipungut sebesar Rp15.000,-. Uang tiket ini sudah termasuk asuransi, pengembangan fasilitas, selain juga sebagai pemasukan bagi Perhutani dan KTH sebagai pengelola. Kang Yayan menambahkan, uang tiket ini juga diproyeksikan untuk kontribusi pada masyarakat desa sekitar kaki gunung yang dilewati para pendaki. Dalam waktu dekat, pengelola juga berencana membuka sebuah camping ground di area pos pendaki Jalur Pemancar.

Pemungutan tiket sebesar Rp10.000,- oleh PT Perkebunan Nusantara juga masih ada (sehingga untuk masuk Jalur Pemancar dibutuhkan uang sedikitnya Rp25.000,-). Permasalahan sampah, pungutan liar, dan masalah-masalah lain juga masih terasa, dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan peresmian wana wisata gunung cikuray ini. Walaupun demikian, upaya legalisasi ini patut mendapat apresiasi karena dengan diakuinya jalur pendakian ini, diharapkan permasalahan tadi mendapat solusi yang juga legal dan efektif.

kini ada sebuah monumen di jalur pemancar. Peresmian Wana Wisata Gunung Cikuray

kini ada sebuah monumen di jalur pemancar. Peresmian Wana Wisata Gunung Cikuray

Memang, masih banyak konflik yang belum terselesaikan di Gunung Cikuray. Tapi dengan adanya perhatian dari Perhutani, serta masyarakat sekitar yang membentuk kelompok pengelolaan, tim Jelajah Garut berharap Gunung Cikuray dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan; yang tidak hanya meninggalkan sampah, tapi juga berkontribusi pada ekonomi warga dan ekosistem Gunung Cikuray.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest

Shares
Share This