Komunitas Jelajah Garut: Explore Kamojang!!

Rencana kita adalah mengunjungi Pusat Konservasi Elang Kamojang, kemudian diteruskan ke Kawah Kamojang, dan kembali ke daerah Cibeureum untuk berkemah di Camping Ground Situ Cibeureum.

Setelah melakukan kumpul perdana tanggal 9 Juli lalu, Komunitas Jelajah Garut kini mulai beraksi menjelajahi Garut. Sabtu Minggu kemarin (23-24/07), Kita mulai menyambangi destinasi-destinasi potensial di Garut. Daerah yang menjadi tujuan pertama kita ada di area Kamojang, daerah perbatasan antara kec. Samarang dan Kabupaten Bandung, yang terkenal dengan area Geothermal-nya.

Total ada sebelas orang yang ikut meramaikan perjalanan ini. Ada Kang Ardi, Teh Mia, Kang Yoga, Kang Fajrin, Kang Husni, Teh Dewi, Teh Sri Dwi, Kang Syahril, dan Teh Fascah, serta teammates komunitas ada Teh Yuli dari Subang, dan Teh Desi dari Semarang. Walaupun berasal dari berbagai latar belakang, tidak butuh waktu lama bagi kita semua untuk langsung akrab dan bermain bersama.

Menanam pohon di Pusat Konservasi Elang Kamojang

Menanam pohon di Pusat Konservasi Elang Kamojang

Rencana kita adalah mengunjungi Pusat Konservasi Elang Kamojang untuk melihat upaya konservasi elang di sana dan menanam pohon, kemudian diteruskan ke Kawah Kamojang untuk melihat keunikan kawah-kawahnya, dan kembali ke daerah Cibeureum untuk berkemah di Camping Ground Situ Cibeureum. Setelah melakukan diskusi dan persiapan selama dua minggu lebih, kita pun berangkat hari Sabtu siang.

Pusat Konservasi Elang Kamojang

Letaknya di Kampung Citepus, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang. Jika kalian berkendara ke daerah Kamojang, setelah melewati Arboretum Cibeureum kalian pasti melihat tempat ini, karena area-nya yang cukup luas tepat di sisi kiri jalan raya. Dari jalan raya, kita sudah bisa melihat sangkar-sangkar besar untuk elang-elang yang sedang direhabilitasi di sini.

Nah, ternyata fokus utama dari Pusat Konservasi Elang ini bukan untuk keperluan wisata, melainkan sebuah area yang difungsikan khusus untuk upaya konservasi elang. Tidak seperti di Kebun Binatang, di mana satwa-satwa memang berada di sana untuk dipertontonkan, di sini elang-elang dirawat dan dilatih untuk kembali ke alam liar, dan kemudian benar-benar dilepas-liarkan.

Elang Ular Bido

Kalian tidak bisa begitu saja masuk ke kawasan ini tanpa pendampingan dari petugas yang ada di sana. Jika kalian ingin berkunjung, akan jauh lebih baik kalian menghubungi terlebih dahulu petugas yang ada di sana, agar kunjungan kalian tidak mengganggu upaya konservasi yang sedang dilakukan. Walaupun demikian, Pusat Konservasi Elang ini juga mempunyai agenda edukasi buat siapa saja yang ingin berkunjung. Jadi jangan khawatir, para volunteer di sana pasti bakal menemani kalian dan menjelaskan semua hal yang ingin kalian ketahui tentang burung pemangsa yang satu ini. Para volunteer ini juga ramah-ramah kok. 🙂

Sebelum melihat elang, kita diberi penjelasan terlebih dahulu oleh Kang Zaini, volunteer sekaligus ketua dari Forum Raptor Indonesia. Beliau menjelaskan mengapa elang ini menjadi satwa yang dilindungi, dan mengapa harus ada upaya konservasi untuk elang-elang ini. Beliau juga menjelaskan bahwa memelihara elang itu selain melanggar hukum, juga mempunyai resiko bahaya karena elang bisa menyebarkan virus yang berbahaya bagi manusia.

Elang Jawa

Kita kemudian diberi kesempatan untuk melihat beberapa ekor elang yang akan terus tinggal di Pusat Konservasi Elang ini. Elang-elang ini kebanyakan menderita kecacatan, sehingga dikhawatirkan tidak akan mampu bertahan di alam liar. Kecacatan ini kebanyakan disebabkan oleh para “pemelihara” elang yang seringkali tidak mempedulikan kesehatan elang, atau malah secara sengaja menyakiti elang tersebut hingga cacat. Kasihan sekali ya. 🙁

Kamojang dianggap sebagai area yang paling tepat untuk membangun sebuah fasilitas konservasi Elang di Indonesia. Selain karena wilayah hutannya yang relatif masih terjaga, area ini juga sering dilalui oleh migrasi elang. Kita sebagai orang Garut, sudah seharusnya bangga bahwa sebuah fasilitas konservasi Elang terpadu di Indonesia dibangun di Garut. Komunitas Jelajah Garut pun bertekad untuk membantu upaya konservasi ini sesuai dengan kemampuan kita.

Sebagai cinderamata, kita menanam beberapa pohon di kawasan konservasi Elang ini. Semoga puluhan tahun nanti, pohon kita ini masih bisa dihinggapi elang-elang yang bebas.

menanam di Kamojang

Ingin menjelajah Kamojang bersama Jelajah Garut? Ayo agendakan trip kalian bersama kami di Jelajah Garut Explore Kamojang, Natural Wonder of Pangirutan.

 

Kawah Kamojang

Perjalanan kemudian kita lanjutkan hingga ke daerah geothermal Kamojang. Daerah ini sebenarnya sudah masuk ke daerah Kabupaten Bandung, namun aksesnya lebih mudah dicapai dari daerah Garut. Di kawasan geothermal ini juga sudah berdiri sebuah kawasan desa wisata terpadu yang dikelola masyarakat sekitar. Nah, karena banyak juga orang Garut yang main ke daerah Kamojang ini, kita pun merasa terpanggil untuk mengunjungi daerah ini.

Setelah makan siang di sebuah warung di sana, kita pun memacu kendaraan kita ke arah Kawah Kamojang. Kita melewati area Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi yang terus mengepulkan asap uap air ke udara. Sangat menarik melihat kawasan terpadu ini. Walaupun titik-titik hujan mulai turun, kita tetap semangat untuk mengunjungi Kawah-kawah di kawasan ini.

Setelah sejenak menikmati Kawah Manuk diluar destinasi wisata, kita pun masuk ke dalam area. Parkiran yang luas dan fasilitas umum yang sudah tertata rapi adalah keunggulan destinasi ini. Jalan menuju kawah-kawahnya pun sudah nyaman dilalui. Salah satu atraksi menarik adalah melihat Kawah Kereta Api dengan bunyinya yang kencang. Jika sedang banyak pengunjung biasanya ada si Abah, kuncen Kawah Kereta Api ini, yang mahir memainkan semburan uap ini hingga menimbulkan bunyi yang sangat mirip dengan suara Kereta Api.

kawah kereta api

Setelah Kawah Kereta Api, kita juga sempat menikmati mandi uap outdoor di Kawah Hujan. Uap di sini katanya berkhasiat juga untuk kesehatan kulit kalian nih, Travelmate. Selain itu, ada juga warga yang sengaja merebus telur di semburan uap ini, dan menjualnya ke pengunjung. Kita pun berlama-lama di kawah Hujan ini dan menikmati sensasi kehangatan mandi uapnya ditengah cuaca yang semakin dingin.

Sebenarnya masih ada beberapa kawah lain di daerah ini, namun jalan menuju ke kawah-kawah lain ini belum senyaman jalan hingga ke kawah hujan. Untuk mengunjungi kawah yang lain, kita harus masuk ke dalam hutan, sehingga dibutuhkan persiapan lebih. Karena hari sudah semakin mulai gelap, kita pun kembali ke daerah Arboretum Cibeureum untuk berkemah.

Kawah Hujan

Berkemah di Camping Ground Cibeureum

Kawasan Camping Ground ini terbilang cukup luas, sehingga seringkali dipakai oleh kegiatan camping Pramuka atau perkemahan anak sekolah. Ketika kita sampai pun sudah ada para kakak-kakak Pramuka yang sedang menyiapkan tempat untuk berkemah. Kita pun membuka tenda di sisi camping ground yang lain.

Camping Situ Cibeureum

Hutan pinus melindungi kita dari angin kencang, membuat area ini nyaman dan relatif lebih hangat untuk berkemah. Hujan turun, sehingga kita berlindung di bawah saung sebelum membuka tenda. Kita pun mulai mengeluarkan perbekalan memasak makan malam kita. Setelah hujan reda, langit mulai berangsur cerah, memperlihatkan taburan bintang. Kita pun menghabiskan malam dengan bercengkrama sembari menyantap perbekalan yang kita bawa.

hammocking di Cibeureum

Tidak terasa malam sudah larut, kita pun mengambil kantung tidur masing-masing dan bersiap untuk tidur. Oh ya, peralatan kelompok untuk kegiatan berkemah ini disponsori oleh Jelajah Garut Outdoor Gear Rent, lho! Hehehe…

Pagi hari kita bangun dan menikmati udara segar di bawah hutan pinus. Kita pun mengeluarkan hammock yang kita bawa dan memasangnya di pohon-pohon pinus. Minggu pagi itu kita manfaatkan untuk menikmati udara segar sembari bersantai ria. Setelah itu, kita pun pulang dengan hati riang.

***

Credit:
Kang Syahril, @syahril_as
Kang Yoga, @yogasundawaariap
Kang Husni, @husnisnrdi_
Kang Ardi, @ardiiryana
Kang Fajrin, @yfajrin
Teh Fascah, @fascah
Teh Mia, @mia_w_asgar
Teh Dewi, @agustiadewi
Teh Dwi, @sridwid
Teh Yuli, @yulihasmalia
Teh Desi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest

Shares
Share This