Kang Yusran Hanif : Dari Desa Untuk Masyarakat Asean

kang hanif

Tau ngga Travelmate, pusat informasi kepemudaan ASEAN itu sekarang cuma ada satu. Asean Youth Center (AYC) yang satu-satunya itu letaknya bukan di Jakarta atau Bangkok atau Kuala Lumpur atau kota besar ASEAN lainnya, Asean Youth Center itu adanya di Garut!!! Mana mungkin? Kok Bisa?

Nah, ini dia orang yang bisa bikin itu terjadi. Di rubrik Pituin Garut kali ini, kita angkat sosok guru rendah hati dari Desa Panawuan, Kang Yusran Hanif.

Ditemui di markas Asean Youth Center (AYC) di Desa Panawuan, Kang Yusran Hanif yang akrab disapa Kang Hanif, menyambut tim Jelajah Garut dengan ramah. Kami pun tidak lagi sungkan untuk bertanya semua hal tentang AYC dan Desa Panawuan pada umumnya.

Bagaimana sejarah dibangunnya Asean Youth Center di Desa Panawuan ini?

Awalnya pada tahun 2008, Desa Panawuan ini sukses menjadi tuan rumah sebuah event internasional, yaitu International Youth Forum (IYF). Event ini hingga saat ini merupakan event internasional terbesar yang pernah diselenggarakan di Indonesia, dari segi partisipannya, yaitu sejumlah 250 partisipan dari 32 negara. Suksesnya acara ini juga berkat para pemuda dan seluruh masyarakat Panawuan.

Sebenarnya pada hari pertama acara ini, banyak sekali peserta yang komplain. Dari mulai komplain homestay, yang cuma di rumah-rumah warga biasa, toliet jongkok yang tidak biasa mereka gunakan, dan banyak lagi. Tapi di akhir acara, para peserta seperti terhipnotis oleh keramahan yang selama acara diberikan oleh seluruh masyarakat Panawuan. Mereka sampai ngga mau pulang.

Setelah acara itu, banyak sekali orang datang mengunjungi Panawuan, terutama para peserta IYF yang kembali bersama teman-temannya yang lain. Selain itu, banyak juga kunjungan-kunjungan dari negara lain kesini.

Lanjut dari sana, kami mendengar Kementrian Pemuda dan Olahraga dan Kementrian Luar Negeri memiliki sebuah program untuk membangun sebuah pusat kemepudaan ASEAN. Dari sana, kita berfikir, mengapa tidak kita bangun sebuah pusat informasi ASEAN berbasis kepemudaan di sini, di Panawuan. Kita sudah memiliki kemampuan untuk bekerja sama secara internasional.

Akhirnya, kita bisa mengusulkan kepada Kemenpora dan Kemenlu sehingga kita bisa bekerja sama untuk mewujudkan ide kita tadi. Dibangunlah AYC ini disini.

Selama ini, sesudah IYF, ada kunjungan dari mana saja?

Kunjungan-kunjungan personal sudah banyak sekali, terutama yang tertarik dengan komoditi sutra. Desa Panawuan punya tenun ikat sutra tradisional yang sudah terkenal hingga ke mancanegara.

Pada tahun 2010, di sini diselenggarakan acara Walk The Peace. Pesertanya ada hingga 80 pemuda dari 10 negara. Di acara ini, para pemuda ini merasakan gimana rasanya hidup bersama warga lokal. Disana mereka bisa saling belajar dan mengalami apa yang namanya toleransi dan kerukunan. Para pemuda ini juga bisa menikmati alam Panawuan yang indah, menanam pohon, dan menyaksikan aksi seni budaya.

Kemudian ada kunjungan Action for Life pada tahun 2011; delapan pemuda dari 6 negara. Mereka berkunjung secara khusus ke Panawuan untuk merancang upaya pemberdayaan masyarakat. Selama tiga hari mereka juga tinggal bersama warga. Disini delapan pemuda ini aktif memberi ilmu leadership melalui workshop kepada penggerak pemberdayaan lokal. Tak hanya itu, pemuda-pemuda ini bersama komunitas lokal membuat blueprint pemberdayaan masyarakat untuk lima tahun ke depan.

Lalu ada kunjungan Daegu University Korea pada tahun 2012; ada Dua puluh delapan mahasiswa Daegu University Korea didampingi empat orang professor datang ke Panawuan. Mereka kesini khusus untuk melihat program kita, English Development Center. Ditutup oleh pagelaran kolaborasi budaya Panawuan dan Korea, Silat dan Taekwondo. Di akhir acara malah ada mahasiswa Korea yang nangis ngga mau pulang saking ramahnya masyarakat disini. Kunjungan-kunjungan ini juga membuat Panawuan tercatat menjadi salah satu kampung yang masuk dalam satu komunitas global, global village.

Selain kunjungan internasional, event nasional juga sudah banyak. Disini pernah diselenggarakan Youth Camp dengan 145 pemuda dari seluruh Indonesia, juga pernah diadakan Panawuan Festival. Bahkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun pernah berkunjung kesini.

Wah keren Kang, lalu program-program AYC ini sekarang apa saja Kang?

Tujuan program kita yang utama adalah menyiapkan para pemuda untuk menyambut ASEAN Community, terutama yang paling dekat adalah dibentuknya ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2015 nanti. Sayangnya, masih banyak sekali pemuda yang tidak tahu dengan adanya AFTA ini, apalagi pemuda-pemuda desa di kota kecil.

Oleh karena itu, disini kita giat membuat program yang intinya adalah mempersiapkan para pemuda untuk menyambut ASEAN Community tadi, diantaranya adalah English Development Center. Kita aktif memberi pelajaran bahasa inggris sebagai bahasa kita nanti jika berhubungan dengan komunitas global. Kegiatannya diadakan disini.

Selain itu, kita juga aktif memberikan informasi-informasi seputar ASEAN kepada para pemuda. Baik secara langsung, maupun di dunia maya lewat berbagai media sosial.

Kita juga memperbolehkan ruangan di AYC ini untuk digunakan oleh para pemuda Garut yang ingin berdiskusi atau berkegiatan. Sudah banyak kegiatan para pemuda Garut yang diselenggarakan disini. Biasanya disela kegiatan, kita bisa memberikan informasi-informasi penting seputar ASEAN Community kepada para pemuda tersebut.

Selain program-program yang berkaitan dengan ASEAN Community, kita juga masih menerima berbagai kunjungan-kunjungan tadi. Oleh karena itu, sekarang Desa Panawuan sudah diproyeksikan menjadi Desa Wisata.

Panawuan akan menjadi Desa Wisata? Wah menarik kang. Kita bisa wisata apa saja di Panawuan?

Disini kita bisa melihat pabrik sutera. Tidak seperti pabrik sutera biasa, sutera Panawuan dibuat dengan teknik tenun ikat tradisional. Tidak hanya tekniknya yang menarik, tenun ikat ini juga punya kualitas yang uar biasa hingga sampai ke level fashion mode internasional. Tenun Ikat Sutera Panawuan beberapa kali mewakili Indonesia di pameran dan fashion show di Milan, Paris, Tokyo, dan London.

Kita juga punya talenta Pencak Silat yang luar biasa, hingga bisa meraih medali-medali di level nasional dan internasional. Ada peristiwa unik ketika kunjungan mahasiswa Daegu dari Korea. Mereka sampai minder dan tidak ingin menampilkan Taekwondo mereka setelah menyaksikan pentas Pencak Silat ala film the Raid disini. Mereka juga bergidik ketika tahu bahwa bahkan semua anak kecil di Panawuan bisa silat.

Sebenarnya potensi kita banyak. Kita belum bicara dari kuliner khas, keindahan alam, dan banyak lagi potensi lainnya. Potensi itu bisa muncul dan berkembang menjadi objek wisata yang luar biasa jika kita mau terus belajar.

Selama ini apa hambatan terbesar akang dalam mewujudkan, baik AYC maupun Desa Wisata Panawuan?

Yang paling sulit adalah mengubah mindset masyarakat. Masyarakat kita punya banyak kearifan lokal yang menarik. Tapi kebanyakan masyarakat tidak siap dengan pariwisata. Kebayakan masyarakat kita, tidak hanya di Panawuan, lebih mengutamakan pertimbangan uang dalam hal apapun. Belum lagi dengan premanismenya.

Ini membuat perubahan menjadi sesuatu yang dihindari. Hingga saat ini pun masih kita coba untuk mengubah mindset itu.

Terakhir kang, apa harapan akang kepada Pariwisata, baik di Panawuan secara khusus, ataupun di Garut secara umum?

Yang saya harapkan adalah, masyarakat Garut bersiap diri dengan munculnya banyak budaya luar ke Garut. Saya sedih melihat mulai terkikisnya budaya-budaya lokal kita. Banyak anak yang tidak lagi mengenal Angklung, Calung, atau kesenian khas sunda lainnya. Bahasa Sunda pun kini mulai berkurang penggunanya.

 

***

“Saya lebih memilih tidak ada orang yang mengunjungi Kampung Panawuan sehingga bisa menjaga kearifan lokalnya, daripada banyak wisatawan masuk, tapi kita kehilangan identitas kita.“

– Kang Yusran Hanif –
(Program Manager Asean Youth Center)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest

Shares
Share This