Sejarah Kopi Garut: dari mulai pahitnya masa kolonialisme, hingga kebangkitannya kini.

Untuk mempelajari Kopi Garut, kita harus membahas sejarah kopi Garut terlebih dahulu. Kopi Garut memiliki sejarah panjang yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah kopi Indonesia sendiri. Mulai dari dibawanya tanaman kopi oleh orang-orang Belanda di zaman kolonial, bagaimana kopi priangan jadi sangat terkenal di Eropa namun tidak disukai oleh para pribumi, hingga kebangkitannya kembali saat ini. Yuk disimak!

Sejarah Kopi Garut di Era Kolonialisme Belanda

Sejarah Kopi Garut tidak bisa dilepaskan dari sejarah masuknya kopi ke Indonesia, khususnya ke daerah Priangan. Awalnya, tanaman kopi dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda untuk dibudidayakan di Batavia sekitar tahun 1696. Namun upaya tersebut gagal. Upaya budidaya kopi berikutnya dilakukan di tanah priangan pada awal 1700-an. Baru pada upaya ini kopi yang ditanam memberi hasil yang memuaskan.

Satu abad berikutnya adalah masa pemerintah kolonial menjadikan daerah Priangan sebagai penghasil kopi terbesar dan terbaik di dunia. Ketika konsumsi kopi di dunia meningkat, pemerintah kolonial terus meningkatkan penanaman pohon kopi di Priangan, termasuk di Garut. Pada awal abad 19, tanah Pasundan menjadi produsen kopi yang menghasilkan separuh dari total produksi kopi di dunia. Gambar di bawah menunjukkan para pemetik kopi di Garut sekitar tahun 1900an.

Sejarah Kopi Garut: Petik Biji Kopi di Garut, sekitar tahun 1900. Garoet Koffiepluksters ca. 1900

Sejarah Kopi Garut: Petik Biji Kopi di Garut, sekitar tahun 1900. Garoet Koffiepluksters ca. 1900

Sayangnya, industri kopi ini terasa sangat pahit bagi penduduk pribumi. Pemerintah kolonial menerapkan sistem kerja paksa kopi, yang terkenal dengan sebutan Preanger Stelsel. Dalam sistem ini pemerintah melarang para petani untuk menanam tanaman lain selain kopi. Selain itu, pemerintah terus menaikkan setoran wajib. Pada saat bersamaan, pemerintah kolonial juga melarang penduduk mengambil biji kopi. Setiap harinya patroli keamanan dikerahkan untuk memeriksa rumah-rumah penduduk; mencari biji-biji kopi yang disembunyikan.

Guru Besar Emiritus Sosiologi Amstredam Institute, Belanda, Prof. Jan Breman, menceritakan sejarah kopi garut ini dalam buku yang berjudul Keuntungan Kolonial dan Kerja Paksa: Sistem Priangan dari tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870. “Produksi kopi Priangan menjadi bagian dari proses tanam paksa dengan perantara birokrat lokal, baik kepala desa, camat, maupun bupati.” kata Jan Breman ketika mengisahkan bagaimana Belanda memaksa rakyat sunda untuk menanam kopi.

Tanam paksa ini membuat rakyat priangan memberontak, dengan perlawanan tanpa kekerasan, yaitu dengan cara merusak tanaman kopi, sabotase, dan cara-cara lainnya. Hasilnya, banyak kebun kopi yang terbengkalai dan rusak. Produksi kopi pun menurun. Hal ini membuat pemerintah kolonial kemudian mengganti kopi dengan teh, dan memulai sistem Cultuurstelsel. Prof. Jan Breman sendiri menyatakan bahwa tanam paksa kopi melalui Preanger Stelsel adalah cikal bakal dari sistem Cultuurstelsel.

Saking identiknya dengan kopi, Java sering diartikan sebagai kopi.

Sejarah kopi garut di masa kolonial lebih banyak diwarnai sejarah pahit. Namun produksi yang besar ini telah berasil membuat kopi dari tanah jawa ini menjadi sangat terkenal di luar negeri. Bahkan orang luar menyebut secangkir kopi sebagai “a cup of Java”. Bahasa pemrograman java pun terinspirasi dari kopi tanah jawa ini.

Sejarah Kopi Garut Kontemporer

Sejarah Kopi Garut di era modern tidak terlepas dari peran program PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) yang digalakan oleh Perum Perhutani KPH Garut. Digulirkan tahun 2002, Perhutani berupaya untuk mewujudkan warga sejahtera yang berbasiskan konservasi.

Perhutani ingin mengajak masyarakat sekitar hutan, agar bisa menikmati azas manfaat dari hutan, melalui bagi hasil dari produk ekonomi yang dihasilkannya, tanpa merusak maupun merambah ekologi sekitarnya. Tanaman kopi bisa ditanam di dalam area hutan-hutan Perhutani, dan masyarakat diharapkan berhenti merambah hutan untuk dijadikan kebun sementara. Hal ini disambut baik oleh masyarakat, serta Pemerintah Daerah Garut sendiri.

Dalam rentang waktu 2002 hingga 2011, lahan tanaman kopi di Kabupaten Garut telah berkembang hingga seluas 2.143 hektar yang dikelola oleh 53 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), dengan tenaga kerja penggarap mencapai 3.050 orang. Dari luasan tanaman kopi tersebut yang sudah panen mencapai 1.369 hektar dengan tingkat produksi 0,30 kilogram per pohon. Dalam beberapa tahun terakhir, Dinas Kehutanan Garut sendiri memberikan bantuan bibit tanaman kopi kepada para kelompok tani binaan sekitar kawasan hutan sekurangnya 500.000 batang per tahun.

Kopi Garut di Kedai Kopi Penyoe Kakopi

Kini, industri kopi Garut sudah menggeliat. Pihak-pihak swasta telah melirik kopi Garut sebagai industri yang menarik dan menjanjikan. Hal ini bisa dilihat dari terus meningkatnya luasan kopi Garut serta berat kopi yang dihasilkan. Menurut data yang dirilis Dinas Perkebunan Kabupaten Garut, areal tanaman kopi rakyat kini telah mencapai sekitar 3.796 hektare, dan menghasilkan lebih dari 1300 ton kopi beras (green bean).

Tidak hanya di hulu, industri hilir pun mulai berkembang. Banyak kedai-kedai kopi di Garut bermunculan dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, para pengolah kopi pun kini mulai berkembang dengan munculnya banyak usaha roastery (penyangrai) dan seiring bertambahnya kemampuan petani untuk mengolah kopi pasca panen.

Sejarah Kopi Garut yang panjang, serta perkembangannya yang sangat pesat kini membuat Kopi Garut akan selalu memperkaya khazanah kopi Indonesia di masa yang akan datang.

 

Beberapa pelaku industri Kopi Garut

Kedai-kedai Kopi Garut

Roastery

Petani Kopi

 

tunggu update artikel-artikel kopi Garut lainnya yah 🙂

Sumber:

http://www.neraca.co.id/article/3037/pengelolaan-hutan-di-jabar-harus-ditingkatkan

http://beritagarut.blogspot.co.id/2010/11/perhutani-garut-wujudkan-warga.html

https://philocoffeeproject.wordpress.com/2014/02/04/kebangkitan-kembali-kopi-priangan-bagian-1/

http://historia.id/buku/rezim-kopi-di-priangan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest

Shares
Share This