Rute Ketujuh Jelajah Garut Tahun 1924

Jalan Bentar – halte keretaapi – kampung Jangkurang – kampung Copong – menyeberang Sungai Cimanuk di kampung Bojongrarang – kampung Bojong – kampung Bojongsalam – kembali ke Garut.

Rute Ketujuh Jelajah Garut Tahun 1924

Rute Ketujuh Jelajah Garut Tahun 1924

Rute Ketujuh Jelajah Garut Tahun 1924

Berawal dari Jalan Bantar (Bentar) di sebelah timur stasiun kereta api (ya, dulu ada stasiun kereta api, sekarang sisa-sisa rel kereta api masih dapat dilihat, namun sudah tidak aktif). Terus ikuti menuju Jangkurang, Copong, dan menyeberang Sungai Cimanuk di Bojongrarang. Di peta terlihat rute menjadi garis putus-putus yang berarti itu adalah sebuah foot path, atau jalan setapak. Sepertinya memang kita harus menyeberangi Sungai Cimanuk dengan berjalan kaki di bagian yang tidak terlalu dalam. Tentu saja di musim penghujan itu sangat berbahaya untuk dilakukan.

Kini sudah ada jembatan jalan besar untuk menyeberangi Sungai Cimanuk menuju Copong. Bahkan di sekitar sana, Sungai Cimanuk kini dibendung menjadi sebuah bendungan yang kita kenal dengan nama Bendungan Copong.

Rute ini memang mengambil Sungai Cimanuk sebagai daya tarik utama. Sepertinya dulu Sungai Cimanuk memang terlihat sangat indah. Bahkan katanya Presiden Sukarno menjuluki Garut kota Intan karena melihat riak pantulan cahaya di Sungai Cimanuk di malam hari yang seperti intan. Sayangnya kini Sungai Cimanuk ada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.

Rute Ketujuh Jelajah Garut Tahun 1924

Rute Ketujuh Jelajah Garut Tahun 1924

Saat ini, rute ini akan sangat walkable seandainya sungai kecil di Bentar itu bersih, enak dipandang, dan tidak menimbulkan bau tak sedap. Sayangnya, sungai di Bentar ini kini menjadi saluran pembuangan limbah, baik limbah industri maupun limbah rumah tangga, sehingga berjalan di sekitarnya tidak begitu menyenangkan. Terlebih lagi, sungai ini juga akan bergabung dengan Sungai Cimanuk, sehingga Sungai Cimanuk kini kian tercemar.

***

|| JGTours || JGMerch || JGRental ||

***

Rute Ketujuh Jelajah Garut Tahun 1924,
Jelajah Garut, 2016

Sumber:

Eenige Wandelingen in de Omstreken van Garoet Behoorende bij de Wandelkaart, Java Vereeniging Toeristenverkeer

naratasgaroet.wordpress.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest

Shares
Share This