Graha Liman Kencana: Keselarasan Alam, Budaya, dan Sejarah Indonesia

Orang-orang menyebutnya Kampung Bali; sebenarnya nama tempat ini adalah Graha Liman Kencana. Lokasinya memang di Cibatu, Garut, tapi suasana di tempat ini serasa bukan berada di Garut; Travelmate bakal merasa seolah berada di Bali atau di dalam area Keraton. Aroma Bali dan Keraton memang terasa sangat kental di Graha Liman Kencana ini. Replika-replika candi, pura, serta patung-patung berdiri kokoh bak menjaga area sekitar Graha Liman Kencana. Derasnya sungai Cimanuk dan hijaunya area Graha Liman Kencana menjadi penambah momen spiritual anda ketika mengunjungi tempat ini.

Tempat seluas 30 Hektar ini dulunya adalah tanah yang gersang. Tanah ini kini sudah disulap menjadi salah satu kawasan wisata budaya dan edukasi yang hijau; wisata budaya yang selaras dengan alam. Sang “pesulap” tersebut bernama H. Derajat Hadiningrat. Beliau adalah seorang kolektor keturunan dari Keraton Solo. Beliau mulai mengkoleksi benda-benda pusaka dan bersejarah sejak tahun 2004. Tak terhitung benda pusaka dan bersejarah koleksi beliau. Untuk pusakanya saja kurang lebih ada 1000 pusaka. Bahkan, tongkat komando presiden pertama pun berada didalam perawatan beliau dan dipamerkan di Graha Liman Kencana.

Replika Patung Jenderal Sudirman bakal menyambut kedatangan para Travelmate yang berkunjung. Menginjakkan kaki di dalam Museum, Travelmate akan langsung disuguhi beberapa benda pusaka, seperti Singgasana Pakubuwono X yang diboyong langsung dari Solo dan berbagai macam keris.

Salah satu yang menarik perhatian adalah Keris Diponegoro. Keris ini bukan keris milik Pangeran Diponegoro, namun ada gambar beliaunya disertai lapisan emas. Ada juga keris Ken Dedes. Keris ini hanya bisa dibuka oleh 2 orang karena sangat berat dan panjang. Beratnya hampir 15 kilogram dan panjang sekitar 2 meter. Bisa dibayangin gak?

Selain keris, ada pula tombak berbentuk kalajengking. Uniknya, tombak ini tidak seratus persen berbahan metal, katanya ada bahan campuran dari batu meteor juga lho. Tombak ini juga dibuat pada masa kerajaan; dibuat tanpa menggunakan mesin canggih seperti sekarang. Artinya, orang-orang pada zaman dulu sudah memiliki teknologi tersendiri untuk meleburkan batu meteor dan bahan metal. Luar biasa banget kan!?

Ada juga sederet wayang golek sunda, peninggalan dalang kondang almarhum H. Asep Sunandar Sunarya ketika pentas beliau yang terakhir di Cibatu. Tombak-tombak prajurit zaman dahulu pun tak ketinggalan menjadi koleksi Graha Liman Kencana.

Ada benda pusaka, pasti ada dupa. Bukan berarti mistis, Travelmate! Ternyata dupa ini merupakan bagian dari perawatan bangunan dan benda pusaka. Dupa ini berfungsi mengusir binatang yang berpotensi merusak bangunan dan pusaka serta pengusir nyamuk juga. Selain itu, perawatan juga menggunakan air kelapa untuk membersihkan senjata dan benda pusaka.

Bangunan museum ini tidak terbuat dari batu bata dan semen, tapi semua bahan-bahannya merupakan bahan asli dan masih terjaga keaslian bentuk dan materialnya. Bahkan keraton ini tidak dibangun di tempat ini, tapi dipindahkan langsung dari tempat aslinya dengan menggunakan 3 truk besar. WOW!

Di bagian luar museum Travelmate bisa melihat ukiran kayu jati. Ukiran kayu ini merupakan Prabu Siliwangi yang diapit oleh 2 naga. Tidak seperti biasanya, karena Prabu Siliwangi biasanya identik dengan harimau, namun kali ini “dijaga” oleh 2 naga. Ukiran kayu jati ini ternyata bukan karya pemahat patung terkenal, namun karya seorang supir angkot Cibatu bernama Asep. Keren! Dalam waktu sebulan Pak Asep ini  menyelesaikan ukiran prabu Siliwangi. Sepertinya pak Asep memang berbakat jadi pemahat kayu nih, hehe…

Banyak banget tempat yang harus diexplore di Graha Liman Kencana ini. Diantaranya ada Widoro Kandang, Pendopo Ki Ageng Kismantoro, Pendopo Giri Mulyo, Pendopo Adyaksa, serta Bangunan Khas Suku Sunda. Bagi pecinta tanaman, di sini juga terdapat flora langka, yaitu Pohon African Baobab yang bisa hidup dari hidup sampai 300 tahun.

Di Pendopo Adyaksa, terdapat tulisan tangan Presiden Ke 16 Amerika, Abraham Lincoln. Percaya ngga? Buat Travelmate yang penasaran tulisannya presiden pertama Amerika kayak gimana, nih kita kasih fotonya. (Takutnya dibilang no pic = hoax gan!)

 

Pendopo-pendopo yang kita sebutin diatas juga bisa disewa untuk bermalam. Hanya saja, jangan berharap ada kasur empuk karena pihak dari Graha Liman Kencana sengaja tidak menyediakan kasur agar seolah-olah mirip dengan kondisi zaman dulu. Tapi tenang saja, di pendopo-pendopo ini, masih ada listrik buat ngecas kok.. hehehe.

Jika Travelmate ingin bermalam dengan kondisi zaman dulu, Travelmate bisa bermalam di rumah sunda. Di rumah ini terdapat kamar-kamar, namun Travelmate nanti “hanya” disediakan petromak untuk pencahayaan. Kamar mandinya pun tidak menyatu dengan ruangan atau pendopo. Terpisah sesuai settingan Tempo Doeloe. Kalau Travelmate kesepian, tenang saja, yang menginap pasti ditemanin penjaga. Jadi kalo mau ke kamar mandi, tinggal minta tolong aja ke penjaga buat bawain kamar mandinya.. hehehe. Maksudnya minta anter ke kamar mandi. Hehehe.

Dan untuk informasi tambahan, salah satu benda pusaka yang berada di Graha Liman Kencana ada yang berharga sampai 7 milliar rupiah! Bayangin.. 7 milliar…. ! serta terdapat 1 museum utama yang khusus dan harus reservasi dulu.

Biar ga makin penasaran, mending Travelmate langsung agendain berkunjung ke sini. Oh ya, kita juga pengen ngingetin Travelmate agar juga menghormati aturan dan budaya yang berlaku di sini. Itu juga salah satu poin penting dari pembelajaran menjadi Responsible Traveller!

***

Nama                    : Graha Liman Kencana/Kampung Bali

Alamat                  : Jalan Ki Hajar Dewantara no. 17, Cibatu, Garut.

Harga Tiket         : – Dewasa Rp. 20.000 – Anak-anak Rp. 10.000

Including keliling museum Graha Liman Kencana dan area lainnya

*Bila anda ingin memasuki museum utama, tiket masuk menjadi Rp. 50.000

Jenis                      : Wisata Budaya, Sejarah, dan Edukasi

Atraksi                  : Museum, Pura, Pendopo, patung, rafting, dan atv

Akomodasi         : Rp 500.000 –  Rp 1.800.0000

Akses    :

Bisa dilalui 3 jalur. Bagi yang start dari Garut Kota, bisa via Banyuresmi atau Wanaraja. Sedangkan bagi viayang datang dari arah Jakarta, Bandung, dan Tasik, bisa mengambil jalur Limbangan (jalur selatan kalau mudik).

  1. via Wanaraja : setelah pasar Wanaraja ada penunjuk arah ke Cibatu. Ikuti jalan tersebut sehingga anda bertemu alun-alun Cibatu. Setelah bertemu alun-alun Cibatu, ambil arah kanan.

 

  1. via Bayuresmi : beberapa kilometer setelah Situ Bagendit, ada pertigaan, ambil jalan ke kanan. Ikuti jalan tersebut sampai anda menemui perlintasan rel kereta api. Belok kanan sebelum perlintasan rel kereta api.

 

  1. via Limbangan : Di Pasar Limbangan belok ke arah Cibatu. Ikuti jalan tersebut.

Angkutan Umum :

Naiklah angkot Cibatu yang berwarna Kuning Hijau di Terminal Guntur. Angkot ini punya 2 rute. Yang pertama, rutenya hanya sampai Pasar Cibatu (Rp. 8.000), di sini Travelmate harus melanjutkan perjalanan dengan naik angkot berwarna putih hijau jurusan Malangbong (Rp 3.000) atau naik ojek (Rp 15.000). Rute satu lagi dari Terminal Guntur, melewati Cibatu hingga mencapai Malangbong (Rp. 10.000). Jadi Travelmate cukup sekali naik angkutan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest

Shares
Share This