Curug Sanghyang Taraje : A Short One-Day Trip, yet so Memorable!

Perjalanan yang singkat, tapi One Day Trip to Curug Sanghyang Taraje meninggalkan kesan yang luar biasa

Catatan Perjalanan Curug Sanghyang Taraje
Oleh : Fajrin Yusuf M

Tidak banyak persiapan yang kita lakukan, selain mengecek motor dan menyiapkan tiga bungkus nasi untuk makan siang kita bertiga, saya, adik saya Ardhi, dan teman saya Akew. Kami memang tidak berencana menginap, hanya ingin menikmati sore di Curug Sanghyang Taraje. Kami berangkat untuk mengobati rasa penasaran kami setelah melihat foto Curug Sanghyang Taraje yang luar biasa di media sosial.

Setelah semuanya siap, kami pun berangkat dengan dua motor. Sebenarnya saya agak was-was karena motor saya adalah motor yang terbilang sudah cukup tua, tapi karena tidak ada pilihan lain saya pun tetap berangkat. Kami mengambil jalan Bayongbong karena panorama jalannya yang indah, dengan view sungai Cimanuk yang berbatu-batu di bawah lembah dan Gunung Cikuray sebagai atapnya. Berkali-kali saya melewati jalan ini, saya tetap terpikat dengan pemandangannya.

Setelah Cikuray terlewat, kita tiba di pertigaan Cikajang. Dari sini ambil jalan ke kanan menuju arah Bungbulang. Ini jalan yang agak jarang saya lewati, karena biasanya saya mengambil arah kiri yang akan membawa saya ke Pameungpeuk, jadi dari sini perjalanan jadi lebih menarik buat saya. Beberapa menit dari pertigaan, kita akan tiba di Curug Orok. Sayangnya, karena kita Cuma punya waktu sedikit, jadi Curug Orok kita lewati saja.

Jalan menuju Bungbulang ternyata sudah bagus. Terakhir kali saya mengambil jalan ini di sekitar tahun 2010, jalannya rusak parah. Jalan yang bagus memungkinkan kita untuk menikmati panorama di sepanjang jalan, yang ternyata sangat spektakuler. View Papandayan tampak belakang, dengan hamparan kebun teh-nya mengingatkan saya suasana di Ciwidey. Tapi yang ini jauh lebih indah dan menyegarkan.

Jalan menuju Curug Sanghyang Taraje

Kita memutuskan untuk tidak berhenti dan memilih untuk menikmati pemandangan tadi di perjalanan pulang nanti. Saat itu, kita fokus untuk mencapai tujuan kita, yaitu Curug Sanghyang Taraje. Setelah beberapa menit, kita tiba di pertigaan Bungbulang-Pamulihan. Dari sini kita berbelok ke kanan menuju kecamatan Pamulihan. Dari sini pun kita mulai masuk jalan pedesaan yang kecil dan agak rusak.

Dari sini juga kita sudah harus mengeluarkan alat tercanggih kita, yaitu GPS (Gunakan Penduduk Sekitar). Setelah bertanya-tanya, kita pun tiba di sebuah Gapura yang katanya merupakan desa terakhir sebelum mencapai Curug. Saran kami, jika membawa kendaraan pribadi, lebih baik dititip disini, dan pergi ke Curug dengan ojek, karena dari sini perjalanan akan naik turun dengan kemiringan yang lumayan tinggi.

Pemandangan di sepanjang jalan menuju Curug sangat indah. Di sebelah kanan jalan terbentang tebing dengan pipa-pipa besar. Sepertinya ada pembangkit listrik mikro hidro di daerah ini. Tapi kami tidak bisa menelitinya dengan lama, karena Curug Sanghyang Taraje, muncul di sebelah kiri jalan, ditandai dengan sebuah pos tiket yang terbengkalai. Menurut warga sekitar, pos itu hanya dijaga jika sedang ramai saja, seperti di hari libur. Di libur hari raya Idul Fitri, biasanya pengunjung Curug Sanghyang Taraje meningkat drastis dan ada ritual khusus yang dilakukan disini.

Curug Sanghyang Taraje

Curug Sanghyang Taraje

Beberapa jam berikutnya kita optimalkan waktu untuk menikmati Curug Sanghyang Taraje. Curug yang saat ini memegang rekor sebagai Curug Tertinggi di Garut ini memang luar biasa. Bentuknya yang khas dengan dua aliran besar menjulang, membuatnya memang mirip seperti Taraje atau tangga bambu dalam bahasa sunda. Sanghyang Taraje secara harfiah memang berarti Tangga menuju Kahyangan, dan katanya dulu digunakan Sangkuriang dalam misinya mengambilkan bintang untuk Dayang Sumbi. Mungkin nanti saya juga akan mengajak pasangan saya kesini untuk mengambilkannya bintang di hati saya, hehehe…

Karena saat itu tidak ada orang lain selain kita bertiga, kita pun mulai gila-gilaan dengan berganti kostum renang, dan berenang ke sana kemari . Di dekat Curug, kita juga menikmati hembusan angin dan titik-titik airnya yang langsung menusuk-nusuk kulit. Dingin memang, tapi sangat menyegarkan, apalagi setelah perjalanan yang cukup panjang.

Setelah puas gila-gilaan, kita pun kembali menutup tubuh kita dengan kain, dan mulai membuka makan siang kita. Setelah perut kenyang, kita kembali bertenaga untuk foto-foto. Beruntunglah saya membawa binokular saya. Dari atas curug, kita bisa melihat keluarga Lutung (monyet hitam dengan ekor yang panjang) bergelantungan dari dahan ke dahan. Sayangnya kita tidak membawa kamera yang cukup berkualitas untuk bisa mengabadikannya 🙁

Momen unik lainnya adalah ketika pelangi mulai terbentuk, akibat cahaya matahari yang dibiaskan oleh titik-titik air dari Curug. Untuk momen ini, kita berhasil mengabadikannya. Momen-momen ini membuat kita terlalu terlena, dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Setelah shalat Ashar, kita pun bersiap pulang dengan membawa kembali sampah-sampah kita.

Pelangi di Curug Sanghyang Taraje

Momen buruknya ketika pulang adalah motor tua saya tidak mampu naik tanjakan, dan terpaksa saya jatuhkan ke samping. Kaki dan tangan saya terkilir, serta step motor rusak. Untungnya, adik saya tidak kenapa-kenapa dan motor cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan pulang. Karena insiden ini, saya harus istirahat dulu di warung terdekat. Di warung terdekat ini kita ngobrol banyak dengan empunya warung tentang curug dan problematika kehidupan di pelosok Garut ini. Salah satu dari hikmah kecelakaan saya mungkin karena saya harus diberi inspirasi dari ibu empunya warung ini.

Tapi momen terbaiknya adalah, karena saya jatuh dan harus istirahat dulu, kita jadi kesorean di jalan. Kita tiba di kebun teh Papandayan ketika matahari mulai terbenam. Dan pemandangannya adalah salah satu yang paling indah yang pernah saya lihat dalam hidup saya. Sunset berhias kabut tipis yang menyelimuti hamparan kebun teh, lalu jalan yang lengang tanpa satu pun kendaraan. Pemandangan yang sangat damai.

Kita bertiga pun berfoto di tengah jalan untuk mengabadikannya, lalu melanjutkan perjalanan pulang. Memang merupakan perjalanan yang singkat, tapi One Day Trip to Curug Sanghyang Taraje meninggalkan kesan yang luar biasa di hati saya.

Jika ada kesempatan, pasti akan bertemu dengannya lagi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Pin It on Pinterest

Shares
Share This